Calon Sarjana Asal Belitung Timur di Jakarta Tagih Janji 10 Ribu Lapangan Kerja Kamarudin Muten
- calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
- print Cetak

Holfi Alparian, Mahasiswa (Calon Sarjana) di Jakarta Asal Belitung Timur/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BABELON – Janji kampanye 10 ribu lapangan kerja yang pernah dilontarkan Kamarudin Muten pada Pilkada 2024 silam kini mendapat sorotan tajam.
Tagihan ini datang langsung dari kalangan mahasiswa semester akhir alias calon sarjana Belitung Timur yang siap kembali setelah menyelesaikan studi di Jakarta.
Seorang mahasiswa itu ialah Holfi Alparian, yang sebentar lagi lulus dari salah satu Universitas Negeri di Jakarta.
Dia mengungkapkan bahwa berencana kembali ke Belitung Timur untuk berkontribus. Karena itu dirinya meminta Bupati Belitung Timur Kamarudin Muten (Afa) segera menempati janji politiknya untuk membuka lapangan kerja.
“Janji 10 ribu lapangan kerja adalah harapan besar, tetapi jika tidak ada akses kerja yang memadai, janji-janji itu hanya akan menjadi angin lalu yang memaksa kami kembali merantau,” tegas Holfi.
Kritiknya tidak hanya soal kuantitas, tetapi merambah pada kualitas, relevansi, dan transparansi penerimaan pekerja. Holfi menekankan bahwa lapangan kerja yang disediakan harus sesuai dengan keahlian para lulusan.
Lebih lanjut, dia mendesak agar Pemerintah Daerah yang dipimpin Afa bisa menjamin transparansi dan pemerataan kesempatan kerja guna menghindari praktik nepotisme.
“Jika penempatan pekerja ‘masih’ karena kedekatan atau hubungan keluarga, saya rasa saya maupun anak muda lain akan berpikir dua kali untuk pulang mencari kerja,” ujarnya.
Dalam era digital sekarang ini kata Holfi, Pemerintah Daerah harus menyediakan platform resmi (website) yang aktif dan terbuka yang memuat informasi lowongan kerja, pelatihan, dan penyaluran tenaga kerja.
“Pemerintah Daerah seharusnya juga punya website aktif. Jika platform itu sudah ada, harus disosialisasikan dengan baik. Aksesibilitas informasi ini krusial,” katanya, menyiratkan keraguan atas kinerja digital Pemda saat ini.
Bagi Holfi, kembali dan bekerja di kampung halaman adalah wujud etika memajukan daerah. Namun, realitas kesempatan kerja yang terbatas menimbulkan ketakutan dan menempatkan para lulusan pada pilihan sulit: tetap idealis menunggu perubahan atau menjadi realistis dan mencari peluang di luar daerah.
Keputusan untuk merantau dianggapnya bukan penyerahan diri, melainkan “cara lain untuk tetap berjuang.” Namun, dia juga melontarkan pesan keras.
“Jika nanti saya terpaksa bekerja di luar daerah, ini adalah teguran bagi saya sendiri dan anak muda lain agar tetap bisa memberikan kontribusi yang lain bagi kampung halaman. Saya menaruh harapan pada pejabat-pejabat Belitung,” pungkasnya.***
- Penulis: Redaksi



