Siapa di Balik Alat Berat? Menelusuri Pembukaan Lahan Misterius di Kawasan Air Purang
- calendar_month 15 jam yang lalu
- print Cetak

Rapat Koordinasi Desa Jangkar Asam/BabelOn
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BABELON, Belitung Timur – Masyarakat Desa Jangkar Asam, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur, Bangka Belitung, dikagetkan dengan aktivitas pembukaan lahan (land clearing) skala besar yang terjadi di area Air Purang.
Lahan yang masuk dalam wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) aktif PT Timah tersebut diduga dibuka tanpa adanya sosialisasi kepada warga setempat.
Nandes, salah satu masyarakat Jangkar Asam mengungkapkan bahwa aktivitas tersebut telah berlangsung selama kurang lebih tiga minggu, tepatnya sejak awal bulan Ramadan.
Berdasarkan pantauan warga, lahan yang semula merupakan hutan murni bukan area eks-tambang atau perkebunan kini telah terbuka hingga belasan bahkan puluhan hektar.
Kronologi dan Dugaan Keterlibatan Pihak Ketiga
Menurut Nandes, proses pembukaan lahan dilakukan secara bertahap menggunakan alat berat. Awalnya, dua unit ekskavator kecil dikerahkan ke lokasi, disusul kemudian oleh dua unit ekskavator besar merk Hitachi. Hingga saat ini, diperkirakan total ada lima alat berat yang beroperasi di lokasi tersebut.
“Saat kami tanya ke operator di lapangan, mereka mengaku bekerja atas suruhan pihak ini dan itu,” ujar Nandes saat memberikan keterangan, Selasa (17/3/2026).
Warga menduga lahan tersebut akan dialihfungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit. Dugaan ini diperkuat dengan munculnya pancang-pancang yang diikat plastik putih sebagai penanda batas jalur di seluruh area yang telah dibersihkan.
Masyarakat Tuntut Pengelolaan Mandiri
Kehadiran pihak ketiga yang tidak dikenal ini memicu keresahan. Nandes menegaskan bahwa selama ini masyarakat sangat patuh terhadap aturan hukum terkait IUP PT Timah dan tidak berani mengelola lahan tersebut tanpa izin resmi.
Namun, munculnya pihak luar yang tiba-tiba menguasai lahan tanpa sosialisasi dinilai melukai rasa keadilan warga.
“Masyarakat terkejut. Kenapa tiba-tiba ada pembukaan lahan oleh pihak ketiga tanpa sosialisasi? Padahal area ini masuk Bank Tanah IUP PT Timah,” kata Nandes.
Warga Jangkar Asam berharap agar pihak desa dan instansi terkait transparan mengenai status pembukaan lahan tersebut. Mereka menuntut agar pengelolaan lahan di wilayah desa mereka diprioritaskan untuk masyarakat lokal, bukan diberikan kepada pihak ketiga yang tidak jelas asal-usulnya.
- Penulis: Redaksi



